Sarang Bokep

Cerita Sex, Foto Mesum, Video Bokep Indo

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Guru Yang Bohai

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Guru Yang Bohai

© SarangBokep | Cerita Dewasa Bercinta Dengan Guru Yang Bohai

SarangBokep – Cerita Dewasa Bercinta Dengan Guru Yang Bohai. Aku siswa SMA di sebuah sekolah negeri Jakarta. Aku merupakan siswa yang dibilang cukup pandai dikelasku. Apalagi setelah aku menang olimpiade komputer tingkat provinsi, namaku kadi makin dikenal di sekolahku. Nilai-nilai ku disekolah juga bisa terbilang bagus. Selalu dapat nilai diatas 7. Kecuali pelajaran PKN, pelajaran yang paling susah menurutku. Aku tidak pernah mendapat nilai bagus. Paling bagus cuman dapat 7.

Hari rabu ini, aku belajar seperti biasa. Tapi saat pelajaran PKN, bu tanti, guru PKN  ku tidak masuk. Biasanya Bu Tanti tidak pernah telat. Seperti biasa, kalau tidak ada guru masuk, kami sekelas selalu ngobrol di kelas. Tiba-tiba ada seseorang wanita yang tidak kukenal masuk ke kelasku.
“Hayoo jangan pada berisik. Oh iya perkenalkan, nama saya ibu Tantri. Usia 21 tahun. Ibu ada disini karena ibu dipesan sama ibu Tanti mengajar disini selama 1 semester karena ibu lagi praktek kerja lapangan untuk belajar jadi guru.”
“Yaahhh, Bu Tanti engga masuk deh”, jawab teman-temanku serentak sambil senyum.
“Halah ibu tau kalian pada senang kan? Oke ibu dipesankan kalau hari ini ibu ngajar bab 2. Coba buka buku kalian.”
“Iya buuu.”

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Guru Yang Bohai

Anak-anak begitu antusias ketika pertama kali diajar Bu Tantri. Dulu selama diajar Bu Tanti tidak pernah seperti ini.
Bu Tantri masih muda, cantik dan baik lagi. Coba dia jadi pacarku, wah aku senang banget, pikirku dalam lamunanku. Sejak kehadiran Bu Tantri, aku lebih sering melamun. Terlalu sering liatin Bu Tantri ketimbang liat bukiu. Bagiku, Bu Tantri adalah cewek yang ideal. Tak terasa sudah bel istirahat sekaligus jam Bu Tantri hari ini sudah selesai.
“Sebelum ibu keluar, ibu mau kasih tau kalau minggu depan ulangan bab 2. Ibu dpesanin bu Tanti”
“Yah kok baru diajar sebentar langsung ulangan sih? Bikin soal yang gampang ya bu.”
“Ya udah ibu bikin yang gampang. Tapi kalian semua harus dapet yang bagus ya? Oke ibu keluar dulu. Selamat siang anak-anak.
“Asik ulangannya di bikin gampang. Selamat siang bu”
Sepulang sekolah aku langsung buka buku PKN. Aku belajar biar dapat bagus dan demi Bu Tantri aku belajarnya hehehe. Tidak seperti biasanya, aku sepulang sekolah selalu belakar, kecuali PKN. Karena ada Bu Tantri aku jadi semangat untuk dapat bagus.

Seminggu kemudian, Bu Tantri menepati janjinya untuk mengadakan ulangan. Bu Tantri membagi-bagikan soal ke setiap anak. Begitu aku menerima soal dan aku lihat, agak susah menurutku. Aku kerjakan nomor yang aku bisa. Sisanya yang aku enggak bisa aku lewatin dulu. Begitu aku lihat temanku yang lain, udah hampir selesai padahal waktu ulangan masih 40 menit lagi.

Terpaksa aku lihat jawaban temanku yang duduk disebelahku. Kebetulan Bu Tantri lagi keluar sebentar, jadi ada kesempatan buat aku untuk nyontek. Baru nyontek 2 nomor, tiba-tiba Bu Tantri masuk ke kelas dan sempat lihat aku lagi nyontek, tapi Bu Tantri tidak menegurku dan malah mengawasi anak yang lain.

Sepertinya Bu Tantri membiarkan saja dan pura-pura tidak tahu atas apa yang aku perbuat tadi, tapi apa urusanku. Yang penting sekarang ada 4 nomor kosong lagi yang harus diisi. Aku jadi lebh hati-hati dan lebih memperhatikan situasi. Setiap kali Bu Tantri mengawasi anak lain aku langsung menyontek jawaban temanku. Tak terasa sudah bel. Aku langsung mengumpulkan jawabanku ke Bu Tantri. Dan setelah semua anak mengumpulkan jawaban, Bu Tantri mengucapkan selamat siang sambil keluar kelas.

Aku masih khawatir sama kejadian yang tadi. Apa Bu Tantri enggak marahin aku tapi nilaiku dibikin jelek nantinya? Ah sudahlah nunggu Bu Tantri koreksi jawabanku saja, pikirku. 2 hari setelah ulangan, Bu Tantri masuk ke kelasku untuk membagikan hasil ulangan. Anak yang dipanggil namanya langsung maju dan menerima hasil ulangannya.

Begitu namaku disebut, aku melihat nilai 6,5. Sebelum aku kembali ke tempat duduk, Bu Tantri bilang “nanti pulang sekolah kamu ke ruang guru ya. Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu.” Aku langsung deg-degan. Tapi aku sudah berusaha mencoba tenang dan tidak akan diomelin nanti.

Sepulang sekolah, aku langsung menghadap Bu Tantri.
“Vicky, kok cuma kamu yang dapat jelek? Padahal kan gampang itu ulangannya,”
“Saya udah belajar bu. Seminggu yang lalu pas ibu bilang mau ulangan saya langsung belajar PKN.”
“Walaupun begitu, kamu masih tetap kurang maksimal belajarnya. Gimana kalau ibu kasih kamu tambahan biar kamu dapat bagus?”
“Wah boleh tuh bu. Dimana bu?
“Ini alamat rumah ibu. Kamu datang hari minggu siang. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau kamu dapat tambahan”, memegang kedua tanganku sambil tersenyum.
“Oke bu. Yang penting nilai saya jadi bagus.”
Aku langsung salaman sama Bu Tantri dan bergegas pulang ke rumah. Alangkah senangnya aku hari ini, karena cuma aku yang dapat tambahan sama Bu Tantri. Dari pulang sekolah, aku senyum terus. Sampe-sampe pas di bis aku dilihatin sama ibu-ibu. Sampe rumah aku langsung mikirin Bu Tantri terus. Seandainya Bu Tantri jadi pacarku, terus aku mikir ah engga mungkin itu. Daripada mikir yang enggak jelas terus mending belajar aja deh.
Hari minggu jam 1 siang, aku pergi kerumah Bu tantri. Rumahnya enggak begitu jauh. 10 menit dari rumahku. Aku melihat rumah Bu Tantri yang sederhana tapi bersih. Aku memencet bel 3X, Bu Tantri keluar.
“Oh, Vicky ibu kirain siapa. Ayo masuk, enggak di kunci kok”
Aku langsung masuk begitu dipersilahkan. Bu Tantri memakai baju biru dan rok hitam yang ketat. Aku jadi makin suka sama Bu Tantri.
“Kamu mau minum apa?”
“Enggak usah repot-repot bu. Apa aja boleh”
Tak lama kemudian, Bu Tantri membawakan aku air putih. Setelah aku meminum sedikit, Bu Tantri langsung mengajariku bab2. Aku jadi lebih mengerti kalau diajarin sama Bu Tantri. Tak terasa sudah 2 jam belajar sama Bu Tantri.
“Bu makasih ya, saya jadi lebih ngerti kalau diajarin sama ibu. Saya pulang dulu ya.”
“Kamu jangan pulang dulu deh, masa cuma belajar? Oiya, kita ngobrolnya pake aku kamu aja. Nonton TV dulu aja.”
“Yaudah terserah kamu aja deh.”
Akhirnya kami keruang tengah dan duduk di sofa sambil nonton TV. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku beranikan diriku untuk membelai rambutnya.
“Aku ada hadiah buat kamu nih, tapi tutup mata dulu ya.”
“Kenapa engga langsung kasih aka?”
“Kamu di suruh tutup mata tapi masih di buka, ih bandel.”

Aku mengalah saja. Kututup mataku sambil bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang mau dia kasih. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut di bibirku, ketika aku membuka mataku, aku terkejut melihat guruku sendiri mencium menciumku. Aku menyedot lidahnya sambil kucium-cium bibirnya, lalu kuteruskan dengan mencium-cium daun telinga dia sambil berkata “Aku sayang kamu”.

Setelah daun telinga, kuterusi ke leher, kupegang-pegang leher bagian belakang dengan kedua tanganku sambil kucium-cium lehernya. Dia begitu menikmatinya hingga matanya merem melek dan mendesah. Dari leher tanganku turun ke dada, kuremas-remas dadanya sambil kujilati putingnya. Desahannya semakin kencang, kugigit pelan puting kirinya, tangannya sambil mengocok penisku. Aku langsung ganti posisi 69. Aku bisa lihat langsung memiaw Tantri… baunya harum dan segera kujilat, rasanya benar-benar enak.

Pasti dia sering memelihara badannya. Kumainkan lidahku ke bagian klitoris dan labia mayora, sembari kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya. Erangannya tambah kencang. Sedotan Tantri juga enak, seluruh batang penisku dilumatnya, benar-benar enak. Saking enaknya, tak terasa aku sudah dibuat keluar oleh Tantri. Setelah aku mencapai kepuasan, kini gantian Tantri yang aku buat puas. Aku memasukkan jariku ke dalam lubang vaginanya sambil kujilat-jilati bibir vagina Tantri yang berwarna pink.

“Ahh…aku engga tahan nih.”

Kepercepat gerakan tanganku ke dalam vaginanya sambil kupegang klitorisnya dan akhirnya dia orgasme juga. Orgasmenya benar-bena deras sampai membasahi mukaku dan sebagian ranjangnya.

“Vicky maafin aku ya, keluar sampai banyak begitu ngenain muka kamu.”
“Kalau kamu yang keluarin nggak apa-apa”, aku langsung mencium bibirnya.
“Masukin ademu ke dalam marmutku dong… kepengen nih aku.”

Aku ambil posisi missionary, kumasukkan adekku dengan perlahan, masuk ke dalam vaginanya benar-benar sempit. Dia masih perawan, kumasukkan dengan perlahan penisku agar dia tidak kesakitan. Kupercepat sedikit, Tantri tampaknya meringis kesakitan, aku tidak memperdulikan erangan itu. Langsung ku masukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya. Yeah, aku mendapatkan perawannya Tantri. Dia tampaknya menangis kecil menahan kesakitan, langsung saja kucium untuk meredahkan efek sampingnya. Aku mulai mempercepat permainanku.

Ekspresi muka Tantri berubah, tadinya agak kesakitan sekarang berubah menjadi penuh nafsu. Tantri makin menikmati permainanku, ditambah desahannya makin kencang. Aku pikir penisku mengenai bagian g-spotnya. Kusodok penisku dibagian itu, tak lama Tantri pun mengalami orgasme kedua. Aku mengajak dia untuk ganti posisi wot.

Penisku perlahan masuk kedalam vaginanya… Bless, benar-benar nikmat, ditambah dengan otot vaginanya yang meremas penisku membuat kenikmatannya bertambah. Dia terus mendesah keenakan, goyangannya hot juga, padahal baru pertama kali merasakan sex. 6 menit kemudian, goyangannya makin cepat.

“Ahh aku mau keluar lagi nih”
“Eh jangan keluar dulu, barengan aja sama aku. Aku juga bentar lagi keluar kok”

Akhirnya kami keluar secara bersamaan. Sperma ku banyak di dalam dan dia orgasme juga cukup banyak. Setelah kami “bertarung”, Tantri memelukku dan menciumku.

“Makasih ya sayang, kamu udah bikin aku ngerasain nikmatnya bercinta.”
“Ya sama-sama sayang. Ngomong-ngomong, kamu mau ngga jadi pacarku? Aku sayang banget sama kamu.

Sejak pertama kali lihat kamu, mulai ada perasaan suka sama kamu. Aku selalu mikirin kamu terus di rumah. Aku juga dulu kepengen kamu jadi pacarku…” Tantri terdiam sejenak. Dia menintikkan air mata.
“Aku juga sayang sama kamu. Aku engga mau kehilangan kamu.”

Kami berpelukan dan berciuman lagi. tak terasa sudah jam 3 sore. Kemudian aku pamit sama dia untuk pulang.

Hari-hari berikutnya berlangsung seperti biasa, tidak ada yang tahu tentang hubungan kami berdua. Sejak saat itu, kami mulai rajin bercinta setiap hari minggu dan sabtu. Mudah-mudahan hubungan kami bisa langgeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sarang Bokep © 2017 Cerita Sex