Sarang Bokep

Cerita Sex, Foto Mesum, Video Bokep Indo

Cerita Sex Nikmatnya Memek Guruku

©SarangBokep

Cerita Sex – Sebagai siswa sebuah SMA Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan. Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang. Dan paling aku banggakan adalah ukuran kemaluanku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.

Namaku Robin, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau bersetubuh.

Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang kerumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.

Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras. Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu Sinta, aku terkejut. Disana kulihat Bu Sinta, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rudi, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.

Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rudi meremas-remas pantat Bu Sinta yang padat, sedangkan tangan Bu Sinta melingkar dipinggang Pak Rudi. Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku membungkukkan badan dan bersembunyi dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.

Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rudi duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu Sinta mendekati Pak Rudi, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rudi. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rudi juga diembatnya. Hingga Pak Rudi setengah telanjang. Bu Sinta mengurut-urut kontol Pak Rudi. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Sinta membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rudi. Kontol Pak Rudi diciuminya.

“Isep.. sayang.. isep.. kontolku” suruh Pak Rudi.

Bu Sinta tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rudi. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Sinta sangat pintar memainkan lidahnya dikontol Pak Rudi.

“Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss”.

Pak Rudi mengerang ketika Bu Sinta mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rudi masuk kemulutnya. Kontol Pak Rudi maju mundur didalam mulut Bu Sinta. Tangan Bu Sinta mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rudi merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.

Lima belas menit berlalu, Pak Rudi menarik dan menjambak kepala Bu Sinta.

“Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang” Pak Rudi menjerit histeris.

“Keluarin aja sayang, aku ingin meminumnya” sahut Bu Sinta.

Bu Sinta tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rudi dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rudi seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rudi berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rudi menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Sinta. Bu Sinta meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rudi terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rudi bersih. Kontol Pak Rudi kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rudi yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.

“Kamu puas sayang dengan serviceku” tanya Bu Sinta.

“Puas sekali, kamu pitar sayang” puji Pak Rudi sambil tersenyum.

“Gantian sayang, sekarang giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Sinta.

Bu Sinta melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Sinta tak memakai apa-apa dibalik gaunnya. Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Sinta kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rudi mendekatinya. Memek Bu Sinta diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Sinta. Bu Sinta menjerit nikmat.

“Isep sayang, isep memekku sayang” pinta Bu Sinta menghiba.

Pak Rudi menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Sinta. Lidahnya dijulurkan kememek Bu Sinta. Disibaknya bibir memek Bu Sinta dengan lidahnya. Pak Rudi mulai menjilati memek Bu Sinta.

“Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh” Bu Sinta mendesah.

Pak Rudi dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir memek Bu Sinta. Dihisapnya memek Bu Sinta dari bagian luar kedalam. Memek Bu Sinta yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.

“Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang” jerit Bu Sinta.

Hampir seluruh bagian memek Bu Sinta dijilati Pak Rudi. Tanpa sejengkalpun dilewatinya.

“Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang” erang Bu Sinta.

Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rudi, dibenamkannya keselangkangannya.

“A.. akuu.., keluarr.., sayang” Bu Sinta menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rudi menjilati memeknya hingga bersih.

“Kamu puas Sis?” tanya Pak Rudi pendek.

“Belum! Entot aku sayang, aku ingin merasakan kontolmu” pinta Bu Sinta.

“Maaf Sis! Aku tak bisa, aku harus pulang”.

“Nanti istriku curiga, aku pulang sore” sahut Pak Rudi menolak.

“Kamu pengecut Rudi! Dikasih enak aja takut!” kata Bu Sinta jengkel.

Matanya meredup, memohon pada Pak Rudi. Pak Rudi tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Sinta yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan. Setelah Pak Rudi berlalu, kudekati Bu Sinta yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat. Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai didepan selangkangan Bu Sinta, tanganku meraba-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir memeknya. Dia melenguh. Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.

“Si.. siapa.., kamu” bentak Bu Sinta ketika tahu memeknya kujilati.

“Tenang Bu! Saya Robin murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rudi” sahutku penuh nafsu.

Bu Sinta tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Sinta yang belum tuntas oleh Pak Rudi membuatnya menerima kehadiaranku.

Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Sinta. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.

“Oohh.., truss.. Robin.., truss.. isep.. sayang” pintanya memohon.

Hampir setiap jengkal dari memek Bu Sinta kujilati. Bu Sinta mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik keatas meja. Aku berlutu diatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.

“Wow! Gede sekali kontolmu!” katanya sedikit terkejut.

“Isep Bu! Isep kontolku!” pintaku.

Bu Sinta mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.

“Truss.. Buu.. teruss.., isepp” aku mengerang merasakan nikmat.

Bu Sinta menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

“Akuu.. tak.., tahann.., sayang! Entot aku sayang” pintanya.

“Ya.., ya.. Buu” sahutku.

Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Sinta melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku. Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.

Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Cheekk!Cheeekkk! Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.

“Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss” Bu Sinta mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.

“Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., memekmu.., hangat” desahku.

Sekitar tiga puluh menit aku menggenjotnya, kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

“Akuu.., tak.. tahan.., Binn, aku.. mau.. keluarr” jeritnya.

“Tahan.. Buu.., aku.. masih tegang” sahutku.

Dia bangun duduk dimeja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.

“Akkhh.., akuu.. keluar” Bu Sinta menjerit histeris.

Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu Sinta mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kusetubuhi.

Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang anusnya. Kedua pahanya kupegang erat.

“Ja,.jangan.., Binn” teriaknya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.

Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang anusnya yang sempit.

“Aow! Sakitt.. cabutt.., Binn.., aku.. sakitt.. jangan” teriaknya keras.

Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Sinta mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Sinta sudah bisa menikmati sentuhan kontolku dianusnya.

“Jadi dicabut ngga Bu” candaku.

“Jangan sayang, enak banget” katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang anusnya, semakin lama semakin cepat. Bu Sinta menjerit-jerit. Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.

“Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr” aku melolong panjang.

“Akhh.. akuu juga sayang” sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang anusnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku. Bu Sinta menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.

“Kamu hebat Binn, aku puas sekali” pujinya.

“Aku juga Bu” sahutku.

“Baru kali ini memekku dimasuki kontol yang sangat besar” katanya.

“Ibu mau kan terus menikmatinya” kataku.

“Tentu sayang” jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Sinta, guruku ternyata hyperseks. Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali. Selanjutnya Bu Sinta menjadi salah satu koleksi cewek-cewek yang pernah kutiduri. Kapanpun aku mau, dia tak pernah menolaknya. Dan yang paling dia sukai adalah disodomi. Dia juga menyukai pesta seks

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sarang Bokep © 2017 Cerita Sex